By: Sahabatbaik
“Aaaahh….” sambil memeras rambut, suara orasi salah
seorang pengurus serikat pekerja itu sudah tidakku hiraukan lagi bahkan nyaris tidak terdengar
yang ada dalam pikiranku saat ini adalah
bagaimana menyelesaikan dua masalah yang kuhadapi. Serasa sesak dada bila
mengingat dua pilihan yang cukup berat ini. Belum lagi mendengar pembicaraan
teman-teman yang justru semakin menyudutkan diriku, padahal aku ingin mendapatkan solusi dari masalah yang
kuhadapi. Sementara waktu semakin mendesak aku untuk segera mengambil keputusan.
Kawan seperjuangannya diserikat pekerja, Mansur teman
berbagi cerita saat ini, bukan memberikan jalan keluar dari dua pilihan yang kuhadapi
malah mendesak aku untuk berpihak kepadanya dalam melanjutkan perjuangannya
diserikat pekerja.
“Bung Harun apakah
kau akan tinggal diam membiarkan serikat pekerja ini didominasi oleh Tono dan
membawanya kepada kearah yang tidak jelas”.
“Siapa lagi yang akan menggantikan Aku memegang pucuk pimpinan
serikat pekerja ini,karena saya tak mungkin untuk menjabat untuk periode yang
ketiga?”.
”Apakah kau tidak
sadar organisasi kita saat ini sarat dengan kepentingan pragmatis,orang-orang yang
mencari keuntungan dari organisasi ini, orang yang tidak peduli dengan buruh
dan pro kepada pemilik perusahaan ini”?.
Kata-kata mansur yang
selalu terngiang-ngiang di telinga menambah beban berat pikiranku.